Najib mahfuz
Naguib Mahfouz – terlepas dari berbagai penghargaan yang diterimanya – termasuk salah satu penulis otentik yang karyanya menggugah daya imajinasi pembacanya agar dibentangkan seluasnya. Acapkali Naguib memainkan simbol ataupun perlambang ke dalam bentuk alegori untuk menggambarkan situasi yang tengah dipikirkannya. Satu hal yang otentik dari diri seorang Naguib Mahfouz adalah rancangan kehidupan yang dibentuknya secara disiplin. Alasan ini pula yang Naguib gunakan ketika menjelaskan alasannya saat ditanya mengapa dirinya tidak dapat hadir ke Swedia dalam upacara penyerahan penghargaan Nobel yang diterimanya saat itu. Bagi seorang Naguib, tidak ada yang tulus dicintainya selain menulis.Buku Titik Awal: Sepilihan Esai Sastra dan Flsafat yang diterbitkan oleh Penerbit Circa merupakan hasil penerjemahan buku Naguib Mahfouz On Literature and Philosophy, The Non-Fiction Writing of Naguib Mahfouz Volume I oleh Saut Pasaribu. Penerjemahan tulisan ini sudah barang tentu menjadi sebuah spektrum segar bagi khazanah literatur kesusatraan kita. Sesuai judulnya, buku ini memberikan titik awal gambaran bagaimana keluwesan serta keluasan yang dimiliki oleh Naguib Mahfouz dengan tidak berdiri dalam proses yang klise ataupun dangkal. Naguib telah melakukan pengembaraan filosofis yang membentang mulai dari alam pikiran Thales. Ia pun memasuki berbagai macam subtema terutama pembicaraannya yang mendalam mengenai filsafat, psikologi, kesenian ataupun kesusatraan yang menjadi kesukaan yang dia ingin perlihatkan. Kedisiplinan inilah yang menjadi bukti otentik serta pembeda Naguib dengan penulis yang lain. Kehidupan yang sistematis ini mengingatkan saya dalam kehidupan ritmik yang juga dijalani oleh Immanuel Kant. Kedisiplinannya melahirkan sebuah anekdot, bahwa Kant lebih dipercayai dibandingkan dengan jam. Namun, dibalik sedikit persamaan itu, pemikiran Kant sebagai salah seorang pemikir besar mendapat sorotan dan diulas secara tajam di salah satu bab mengenai filsafat dalam Buku Titik Awal: Sepilihan Esai Sastra dan Flsafat Naguib memberikan sorotan dan ulasannya tentang bagaimana Kant menyikapi pertentangan doktrin empirisme dan rasionalisme secara waspada yang disebutnya bahwa Kant tidak ingin menerima klaim luas kedua doktrin tersebut.
2. Seproduktif apakah Najib Mahfuz dalam bekarya dan berprestasi?
Najib mahfuf adalah sastrawan Mesir yang tersohor. Selain itu, ia adalah seorang penulis yang sangat produktif dan karya-karya yang dihasilkannya penuh daya cipta. Sebagai seorang mahasiswa filsafat dan seorang pembaca aktif, ia telah terpengaruh oleh para penulis Barat, seperti Flaubert, Balzac, Zola, Camus, Tolstoy, Dostoevsky, dan terutama Proust.
3. Apa karya beliau yang mengantarkan sebagai pemenang nobel di bidang sastra?
Di era pasca-Revolusi 1952, ia kerap menyusupkan pandangan politiknya secara terselubung dalam wujud kiasan dan simbol di setiap tulisannya. Hingga wafat di usia 94 tahun, ia telah menulis hampir 40 novel sekaligus ratusan cerpen. Al-Karnak merupakan salah satu novel karya penulis kenamaan Arab, Naguib Mahfouz. Pada tahun 1998, ia mendapat penghargaan Hadiah Nobel dalam bidang kesusastraan. Debut novelnya terbit pada 1932, dan lebih dari sepuluh novel telah ditulis sebelum Revolusi 1952. Pada 1957, ia menerbitkan “Trilogi Kairo” (Bayn al-Qashrain, Qashr al-Swaq, al-Sukkariyyah) yang melambungkan namanya di seantero dunia Arab. Berkat karya trilogi itu pula, ia dikenal sebagai pemerhati kehidupan masyarakat urban tradisional.
Komentar
Posting Komentar