Nawal Sa’dawy/Samirah binti al-Jazirah

        1. Apakah Nawal dan Samirah dapat dikategoikan mewakili suara perempuan Arab?                                  Bagaimanakah itu terjadi?

    Nawal El Saadawi, yang meninggal dunia pada usia 89 tahun, mengundang kemarahan sekaligus kekaguman di negara asalnya yang konservatif.
"Mereka bilang, 'Kamu perempuan kurang ajar dan berbahaya.'
"Saya mengatakan kebenaran. Dan kebenaran itu kurang ajar dan berbahaya."
Demikian tulis Nawal El Saadawi, yang meninggal pada usia 89 tahun, menurut laporan media Mesir. Sang dokter, feminis, dan penulis Mesir selama puluhan tahun membagi kisah dan perspektifnya sendiri - dalam novel, esai, otobiografi, dan gelar wicara yang dihadiri banyak orang. Kejujurannya yang brutal dan dedikasinya yang tak tergoyahkan untuk memperbaiki hak-hak politik dan seksual perempuan menginspirasi berbagai generasi. Tetapi karena keberaniannya berbicara, dia juga menjadi sasaran kemarahan, ancaman kematian, dan penjara.
"Dia lahir dengan semangat juang," kata Omnia Amin, teman dan penerjemahnya, 
"Orang seperti dia jarang." Mesir negara Arab 'terburuk untuk perempuan'.Keluarganya berusaha menikahkannya pada usia 10 tahun, tetapi ketika dia menolak, ibunya membelanya. Orang tuanya mendorong pendidikannya, tulis El Saadawi, tetapi dia menyadari sejak usia dini bahwa anak perempuan kurang dihargai daripada anak laki-laki. Belakangan dia menceritakan bagaimana dia marah-marah ketika neneknya berkata kepadanya, "satu anak laki-laki berharga setidaknya 15 perempuan ... Perempuan adalah hama".
"Dia melihat ada yang salah dan dia bersuara," kata Dr Amin. "Nawal tidak bisa memalingkan dirinya."
Salah satu pengalaman masa kecil yang didokumentasikan El Saadawi dengan begitu jelas sehingga membuat pembacanya tidak nyaman adalah menjadi korban sunat perempuan atau female genital mutilation (FGM) pada usia enam tahun. Dalam bukunya, The Hidden Face of Eve (terbit di Indonesia dengan judul 'Perempuan dalam Budaya Patriarki'), dia menceritakan pengalamannya menjalani prosedur yang menyakitkan itu di lantai kamar mandi, sementara ibunya berdiri di sampingnya. Dia berkampanye menentang sunat perempuan sepanjang hidupnya, dengan alasan bahwa praktik itu adalah alat yang digunakan untuk menindas perempuan. Sunat perempuan resmi dilarang di Mesir pada tahun 2008, tetapi praktik tersebut masih berlanjut, dan El Saadawi terus mengutuknya. El Saadawi lulus dengan gelar kedokteran dari Universitas Kairo pada tahun 1955 dan bekerja sebagai dokter, sebelum mengambil spesialisasi di bidang psikiatri. Dia kemudian menjadi direktur kesehatan masyarakat untuk pemerintah Mesir, tetapi dia dipecat pada tahun 1972 setelah menerbitkan buku non-fiksi, Women and Sex (Perempuan dan Seks), yang mencela sunat perempuan dan penindasan seksual terhadap wanita.

        2. Apa yang mendasari novel-novel Nawal sangat kritis terhadap budaya patriarkhi ?

    El-Saadawi, dengan karya novelnya merupakan suatu refleksi pemaknaan seksualitas dan posisi perempuan dalam kaitannya dengan kekuasaan posisi sosial laki-laki, dengan Novelnya memunculkan penokohan karakter pemberontak terhadap apa yang sudah dijalani masyarakat tentang kebebasan dan hak dari jenis kelamin perempuan di mana Firdaus sebagai tokoh utama mencoba merekonstruksi diri dari kekuasaan tubuh perempuan yang berbeda dengan norma masyarakat dan nilai kesucian agama dalam suatu titik pembahasan mengenai privilege laki-laki dalam konteks pelacuran dan pernikahan.Konsep kekuasan, dan dominasi laki-laki dalam ranah domistik (keluarga) terlihat dalam ranah perkawinan. Hal ini dapat dilihat dari novel el-Saadawi,  memaksakan penipuan kepada perempuan dan kemudian menghukum mereka karena telah tertipu, menindas mereka ketingkat terbawah, dan menghukum mereka karena telah jatuh begitu rendah, mengikat mereka dalam perkawinan dan menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang umur mereka, atau menghantam mereka dengan penghinaan atau dengan pukulan. ini saya sadari bahwa yang paling sedikit diperdayakan dari semua perempuan adalah pelacur. Perkawinan adalah lembaga yang dibangun atas penderitaan yang paling kejam untuk kaum perempuan.

        3. Mengapa Samirah menjadi idola pemudi arab?

    Karna,samirah lahir di Mekkah tahun 1943 dari keluarga yang terpandang. Tulisannya menjelma anak panah di tengah Semenanjung Arab dan membuat banyak orang terbangun dengan karya-karyanya yang menyentuh tentang permasalahan pemudi Arab. Ia lebih suka memakai istilah banat (pemudi) untuk  kisah-kisahnya. Jelas, ia berpihak pada persoalan remaja/pemudi Arab, sesuatu yang biasa disembunyikan dalam derasnya arus patriarkhi. Akhirnya, Ia menjadi idola setiap pemudi Arab yang larut dalam air mata ketika membaca karyanya. Air mata yang benar adanya karena permasalahan mereka dibawa oleh Samirah dengan kejujuran dalam penggambaran dan indah dalam gaya bahasanya. Ceritanya menjadi hidup dalam setiap barisnya. Karya-karyanya disukai pemudi, penikmat sastra dan pengharap perubahan. Di antaranya; Wada’at Amaly (1958), Zikriyat Dami’ah, Bariq Ainaik (1963), Qatarat min ad-dumu’ (1967) Wadi ad-Dumu’ (antologi cerpen, 1967), wa Tamdli al-Ayyam (antologi cerpen, 1969), Fi Biladi, Wara’a al-dhabab (1970), Ma’tam al-Wurud (1973),  dan Yaqzat al-Fatat al-Arabiyyah. (non fiksi)

         4. Tema apa yang dominan diangkat oleh Samirah dalam karyanya ?

    Karya-karyanya disukai pemudi, penikmat sastra dan pengharap perubahan. Di antaranya; Wada’at Amaly (1958), Zikriyat Dami’ah, Bariq Ainaik (1963), Qatarat min ad-dumu’ (1967) Wadi ad-Dumu’ (antologi cerpen, 1967), wa Tamdli al-Ayyam (antologi cerpen, 1969), Fi Biladi, Wara’a al-dhabab (1970), Ma’tam al-Wurud (1973),  dan Yaqzat al-Fatat al-Arabiyyah. (non fiksi).Dalam banyak karyanya, ia memuntahkan amunisi penanya untuk membantu mengatasi permasalahan masyarakatnya. Ia menjadikan cerita sebagai wahana solusi bagi berbagai bentuk permasalahan pemudi di negaranya. Karyanya mengekspresikan segala permasalahan yang berseleweran, baik di benak, perasaaan,  maupun hati para remaja dan pemudi Arab. 

 

 

Komentar